MANADO, Perspektif Kawanua – Terjadinya peperangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis energi global. Lonjakan harga minyak dunia saat ini naik 10% menjadi salah satu indikator awal dampak konflik tersebut. Sehingga akan terjadi kenaikan biaya mobilisasi logistik dan harga kebutuhan pokok.

Di tengah situasi ini para pengamat ekonomi menilai gaya hidup konsumtif tanpa perencanaan keuangan yang baik sangat berisiko bagi masyarakat. Expenses berlebihan untuk kebutuhan sekunder seperti belanja impulsif dan hiburan dinilai dapat memperburuk kondisi keuangan.

Karena itu, masyarakat saat ini dianjurkan untuk mengatur kembali arus kas lebih cermat, bijak, lebih memperkuat dana darurat, serta membatasi konsumsi yang tidak mendesak agar tetap aman dan terhindar dari tekanan ekonomi dampak dari krisis energi global. (YM).